Selasa, 24 Mei 2016

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI



Kali ini Saya ingin berbagi tentang IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI.



Dewasa ini telah banyak bermunculan teknologi-teknologi canggih di masyarakat. Dalam membantu segala aktifitas kehidupan, pekerjaan yang dilakukan. Adanya perkembangan teknologi informasi khususnya internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses sesuatu di luar kota, pulau hingga negara.
Dalam hal ini kita mengamati perpustakaan. Mekanisme akses perpustakaan dapat dilakukan dengan menggunakan program khusus, aplikasi telnet atau melalui web browser. Sehingga dengan internet dapat membantu peserta didik dalam penelitian, tugas akhir, tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar berbagai disiplin ilmu.

Link Download:

Selasa, 17 Mei 2016

Jalan-jalan ke Pulau Merah Banyuwangi



Hi para pelancong,,!! Udah tau nii pada mau lancong kemana,,?? Gak usah bingung,,!! Nii gan ane saranin tempat wisata yang gak kalah cantiknya,, tempatnya ada di selatan Banyuwangi Jawa Timur,, tempat ini udah gak asing lagi sebetulnya untuk para pelancong karena tempat ini udah terkenal hingga Internasional,, wiihhh,,
Ya udah lah nii ane kenalin tempatnya,, pantai Pulau Merah,, penasaran kan sama pantainya,,?? Nii ane kenalin tempatnya,,!!

Pulau Merah, begitulah kebanyakan orang menyebutnya. Pulau kecil yang terdapat di pantai Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Pulau Merah di selatan Kabupaten Banyuwangi ini berhasil memikat wisatawan selain melalui pasirnya yang putih dan ombaknya yang menyerupai pantai kuta juga bentuknya yang menyerupai pegunungan yang berada di tengah pantai. Miniatur RajaAmpat, begitulah orang menyebutnya.
Konon sebelum dinamakan pantai pulau merah, pantai ini bernama pantai ringinpitu. Terdapat dua versi yang akhirnya menentukan nama merah pada pulau ini, yang pertama karena warna tanah pada pulau kecil tersebut kemerah-merahan, sedangkan versi yang kedua konon pulau tersebut dahulu pernah terpancar cahaya merah sehingga warga sekitar menamakan pantai ini pantai pulau merah.
Keunikan dari pantai pulau merah lainnya adalah ketika air laut surut, para pengunjung dapat mengunjungi tempat ini dengan berjalan kaki menikmati keunikan gunung kecil yang berada ditengah pantai yang tanahnya berwarnah merah tersebut.

Keindahan lainnya adalah bagi wisatawan yang ingin menikmati keelokan panorama saat matahari terbenam atau sunset dijamin tidak akan menyesal. Karena warna yang keemasan akan muncul ketika detik-detik matahari akan terbenam di bagian barat pesisir pantai.
Jalan Menuju Pantai Pulau Merah
Rute arah selatan banyuwangi ini melalui jalan-jalan pedesaan dan berbukit. Bila mengendarai mobil, perjalanan bias ditempuh hampir 2,5 jam dengan jarak tempuh 67 km.

Jika menggunakan kendaraan umum menuju Pulau Merah, anda dapat memanfaatkan angkutan umu dari terminal Banyuwangi menggunakan bus jurusan Pesanggaran. Selanjutnya anda dapat menggunakan jasa ojek untuk sampai ke Pulau Merah.
Dan apabila anda dari arah Jember, dapat turun di Terminal Jajag, kemudian ganti naik bus jurusan Pesanggaran. Sedangkan jika anda turun dari Bandara Blimbingsari sebaiknya menyewa kendaraan menuju Pantai Pulau Merah.
Nah gimana gan, jadi weekend kali ini gak pingin coba ke wisata Pulau Merah,, Cobain dan nikmatin keindahan alamnya, dijamin deh gak bakal nyesel

Banyuwangi Ethno Carnival



Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) adalah suatu karnaval tahunan Banyuwangi yang unik dan spektakuler. Karnaval ini mempresentasikan adat tradisional asli Banyuwangi. Ratusan pemain memakai kostum menarik berdasarkan tema-tema karnaval yang berbeda setiap tahunnya.

Banyuwangi dikenal memiliki kekayaan seni budaya tradisional yang sangat luar biasa. Hal itu ditunjukkan dengan masih banyaknya ritual dan upacara adat maupun event-event budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat. Berangkat dari kekayaan khasanah seni budaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi membuat satu kemasan seni budaya tradisional dalam sebuah event yaitu Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), suatu event budaya yang diharapkan mampu menjembatani modernisasi seni budaya lokal yang selama ini tumbuh kembang dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi menjadi sebuah event dalam bentuk  parade berskala Internasional tanpa harus merubah nilai-nilai yang sudah berkembang dan tumbuh di dalam masyarakat baik spirit maupun filosofinya.

BEC juga merupakan wadah pemacu kreatifitas generasi muda untuk menuangkan gagasan-gagasan unik dan menarik serta memvisualisasi gagasan yang berlatar etnik dan tradisi dalam bentuk dan kemasan artistik yang spektakuler, sebagai apresiasi terhadap nilai budaya lokal sehingga dapat memiliki daya tarik tersendiri dalam meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal maupun sebagai sajian yang sangat menarik bagi  wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

WAKTU PELAKSANAAN BEC

Penyelenggaraan BEC waktunya  tidak selalu sama setiap tahunnya. Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu pelaksaan BEC berlangsung antara bulan September - November. Sedangkan tempatnya berlangsung di sepanjang jalan protokol kota Banyuwangi.

PERBEDAAN BEC DAN JFC

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) seringkali dilihat sebagai peniruan dari ajang sejenis di Jember, yaitu Jember Fashion Carnival (JFC). Memang harus diakui ide awal BEC tidak berlepas dari sukses JFC. Namun ada perbedaan mendasar diantara keduanya, yaitu terletak pada kekuatan konsep dan tema. Konsep BEC berakar dari kesenian tradisional yang tidak dimiliki oleh JFC. BEC menjadi jembatan antara kesenian tradisional dengan modern supaya lebih bisa diterima di panggung internasional.

Penyelenggaraan BEC selalu mengusung tema kebudayaan lokal. Ketika karnaval lain sibuk menarik tema dari "luar" ke "dalam", Banyuwangi malah sebaliknya, yaitu menggali apa yang dimiliki di ”dalam” untuk diperkenalkan ke ”luar”. Upaya mengangkat kebudayaan lokal adalah sebagai bentuk investasi kebudayaan kepada generasi muda agar bisa menyerap dan memahami makna filosofis yang ada di setiap tradisi masyarakat.

”Kita sering bertanya berapa investasi untuk membangun gedung, tapi mengabaikan investasi kebudayaan yang sangat penting untuk memperkokoh fondasi bangsa ini"

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Banyuwangi Ethno Carnival di mulai pada tahun 2011 sampai sekarang masih berlangsung. Nah kebetulan nii ane mengabadikan momen ivent pada tahun 2012. Yaitu tema pada waktu itu adalah Re Barong Using. Nih ane kasih penjelasannya.



Banyuwangi Ethno Carnival 2012 : RE BARONG USING

Penyelenggaraan BEC yang kedua ini dilaksanakan pada 18 November 2012, dengan mengusung tema Re-Barong Using, yakni kostum peserta memakai pernak pernik barong khas Using (Banyuwangenan). Tema Re-Barong berarti menggambarkan bahwa Barong yang akan ditampilkan berbeda dari aslinya. Peserta dibagi menjadi 3 defile yakni. Defile barong merah, barong kuning dan barong hijau. Ada juga tamu dari Jember Fashion Carnaval yang ikut ambil dalam event kali  ini.


Biasanya orang mengenal barong sebagai kesenian Bali. Namun di Banyuwangi juga ada sebuah kesenian Barong, yaitu Barong Using atau juga disebut Barong Kemiren. Meskipun mirip, tetapi Barong Banyuwangi berbeda dengan Barong Bali. Barong Using memiliki bentuk mirip Barong Bali hanya saja bentuknya lebih kecil. Bentuk mukanya seperti serigala, bermahkota dan bersayap di bagian kanan-kiri dengan paduan warna merah, kuning dan hijau. Sedangkan Barong Bali lebih besar dan tidak punya sayap.

Kesenian Barong biasanya dimainkan dalam bentuk teater rakyat yang sering ditanggap untuk pernikahan dan sunatan. Selain itu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi dikenal ritual upacara adat yang bernama Barong Ider bumi, yaitu ritual bersih desa yang dilangsung pada hari kedua setelah lebaran yang dilakukan oleh masyarakat suku Osing/using di desa tersebut.
Keren kan Banyuwangi, jadi bila anda penasaran kunjungilah Banyuwangi antara bulan September-November sesuai jadwal yang akan diselenggarakan. Karena setiap tahun waktu, tema dan penyelenggaraanya berbeda.

Budaya Petik Laut di Muncar Banyuwangi




    Dalam tiap bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa, bukan hanya petani, nelayan pun menggelar ritual untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan. Waktu pelaksanaan petik laut tiap tahun berubah karena berdasarkan penanggalan Qamariah dan kesepakatan pihak nelayan. Biasanya digelar saat bulan purnama, karena nelayan tidak melaut, mengingat pada saat itu terjadi air laut pasang

Tujuan utama diadakannya ritual petik laut adalah untuk untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan sekaligus ungkapan terima kasih kepada Tuhan.

Di Muncar ( sekitar 35 kilometer dari kota Banyuwangi ), ritual ini berkembang setelah kehadiran warga Madura yang terkenal sebagai pelaut. Tak mengherankan, jika petik laut selalu dipenuhi ornamen suku Madura. Salah satunya, seragam pakaian Sakera, baju hitam dan membawa clurit, simbol kebesaran warga Madura yang pemberani.

Seragam Sakera tersebut disiapkan khusus untuk upacara dan hanya dipakai sekali, jika ada upacara adat lain atau petik laut tahun depan, seragam harus dibuat lagi ,demi ke-sakralan upacara. Petugas Sakera dipilih yang berbadan besar. Biasanya mereka berpenampilan sangar dan angker. Dengan kumis tebal dan gelang besar, Sakera juga diharuskan berpenampilan lucu.
Sakera juga menjadi pengaman jalanya ritual. Mereka selalu berjalan di depan mengawal sesaji dari lokasi upacara ke tengah laut. Mereka mengatur warga yang ingin berebut naik perahu. Sakera mirip Pecalang di Bali. Sesepuh adat juga mengenakan baju Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih. Udengnya batik merah tua.

Bagi nelayan Muncar, petik laut adalah gawe besar yang tidak boleh ditinggalkan. Hari yang dipilih bulan purnama, tepat tanggal 15 di penanggalan Jawa.

Prosesi Ritual Petik Laut

Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu sesaji dilarung ke laut.

Perahu diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.

Pada hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.

Nelayan menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.

Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ), yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi dan pejabat setempat.

Sesaji tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.

Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.

Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.

Dari kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.

Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.

Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.

Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.

Selesai larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai  Sembulungan. , ke Makam Sayid Yusuf, beliau adalah orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah biasanya tari Gandrung dan gending-gending klasik suku Using di pentaskan, hingga sore hari. Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan dan doa bersama.

Ritual petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan penari Gandrung. Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang dan melalui seleksi khusus. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun berikutnya akan diganti Gandrung lain.

Di sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.

Biasanya sepulang pulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.

Selain di Muncar, nelayan di pantai Grajagan, Pancer, dan Bulusan juga menggelar ritual petik laut pada  Muharam.

Ads Inside Post